Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Bokepindo Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”Sedang aku? Senyum bahagia.“Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Tapi Abi kan manusia biasa. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Senyum bahagia.“Abi…!” bisiknya pelan dan girang. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Subhanallah … Alhamdulillah…********Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku? Senyum bahagia.“Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.“Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ucap isteriku kalem.“Iya. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.*******Sepekan sudah aku ke luar kota.















