Mau aku temenin dulu?” Tanyaku setengah mengantuk. Aku dengan teliti menyetir, selain karena mata yang sudah letih juga rasa kantuk yang semakin datang.Tidak terlalu sulit mencari rumahnya karena terletak di pinggir jalan. Bokep indo Tanpa basa basi segera ku lumat bibir tipisnya yang sudah menggodaku dari awal bertemu. Biar saya hidupkan mesinnya, jadi ada AC dan lampunya. OK banget lah kamu…” Puji Gisell lagi. Daripada sendirian, kalau ada orang jahat, bisa repot…” Tawarku.“Gak usah repot-repot, mas. Sayangnya aku merasa tidak enak hati untuk menerima tawarannya.Namun berbeda dengan Gisell, ia memaksa diriku untuk menginap. Tidak sampai setengah jam perjalanan, kami sudah mendekati tujuan.“Rumah kamu dimana, Sell?” Tanyaku.Gisell pun menunjukan arah ke rumahnya. Udah ditolongin pinjem handphone, sekarang ditolongin sampe dianterin…”“Udah, tenang aja…” Balasku.Hari sudah semakin pagi, hujan sudah selesai berganti kabut tipis yang menutupi jalan. Shan, udah hampir pagi. “Gisella, mas. Mbak mau pulang kemana emangnya?”“Ke Pondok Labu, Mas…” Jawabnya singkat. Ku bantu mengangkat pantatnya agar genjotannya semakin cepat. Mungkin sekitar 30 tahunan.“Oh, maaf mbak gak liat, kirain cowok, hehehe.” Balasku untuk memecah kekakuan. Kalau mas?”
“Aku Shandy, mbak…”
“Gak usah pake mbak, Gisell aja mas..”
“Jangan pakai mas juga kalau gitu, Shandy saja…”
Ia pun tertawa kecil mendengar jawabanku. Jadi searah kan sama rumahmu?”“Oh ya?














