Tak ada yang bisa ia banggakan, kecuali kemampuannya menghidupi Ibu dan kedua adiknya di kampung halaman. Ditambah mata gue yang sedikit melotot, biasanya si tamu langsung mengerti kalo gue enggak sudi. Bokeb Sadis enggak, tuh?” tukasnya.Pernah juga pada malam yang lain, seorang lelaki setengah baya meminta Hera menemaninya duduk di sofa. Bisa dibayangkan bukan bagaimana repotnya?” tuturnya. “Sampai sekarang gue masih inget wajah penipu berbau ‘naga’ itu,” katanya lagi dengan wajah geram.Pahit manisnya bekerja di dunia gemerlap (dugem) sudah pernah ia rasakan. Apa lagi di kota besar seperti Jakarta. “Biasanya si tamu itu marah-marah karena menganggap pelayananan kami sangat lambat. Hera masih punya adik dua orang yang masih kecil. Bisa dibayangkan bukan bagaimana repotnya?” tuturnya. Seolah tak peduli dengan orang sekitar, tangan sepasang anak muda itu menyelusup masuk ke dalam celana jeans masing-masing. Gadis yatim ini memiliki kisah hidup yang terdengar klasik di antara denyut nadi orang-orang Jakarta.















