“Kenapa?” tanya Anisa” Maaf Nisa ? Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang-bintang di langit mulai bersinar. Bokepindo Penny’ku masuk ke ‘Ms. Kami ngobrol ngalor-ngidul, soal kondom, soal sekolah, soal nasib guru, dsb. Anisa Maharani, MSC. Veggy’nya hangat sekali bagian dalamnya, bulunya lebat. Romantis sekali tempat kami itu. Bu Anis umurnya belum 30 tahun, sarjana, cantik, tinggi, kulit kuning langsat, full press body. Ada yang bilang dia patah hati dari pacarnya dan kini sok anti cowok. Penny’ku dalam-dalam. Karena aku harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku. Penny’ku dalam-dalam. Pada jam 12 tengah malam, bulan nampak bersinar terang benderang. Aku jilati ‘Ms. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, aku menolaknya, biar aku saja yang membayar Taxi itu. Dia setuju dan masih menenteskan air mata.Setelah aku diperkenalkan dengan suaminya, aku minta pamit untuk pulang, akupun tak tahan dengan suasana yang mengharukan ini. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang.Sial bagi kami, kabut dengan tiba-tiba turun, udara dingin dan lembab, hari mulai gelap, hujan turun rintik-rintik. Anisa Maharani, MSC. Cincin Anisa hanya mampu melingkar di kelingkingku, kalungku langsung dipakainya, setelah dikecupinya. Aku diajaknya ke sebuah Hotel disebuah kota, yah seperti perpisahan.















