Edo masih tak bereaksi, ia seperti tak
mempercayai kejadian itu. Bokepindo Edo merasakan gejala itu lalu berusaha sekuat tenaga untuk
membuat dirinya keluar juga, beberapa saat ia merasakan vagina sang
dokter menjepit kemaluannya keras diiringi semburan cairan mani yang
deras ke arah penisnya. Kapan ibu ada waktu”. “Aku
pernah melihatnya sendiri, Do. Kapan ibu ada waktu”. “Oooh dokter Miranti, sayang…, ooohh”, desah
Edo merasakan penisnya yang mulai bangkit lagi merasakan remasan dan
belaian lembut tangan sang dokter. Keduanya kembali terlihat
bergoyang mesra meraih detik demi detik kenikmatan dari setiap gerakan
yang mereka lakukan. Edo yang baru pertama kali
merasakan nikmatnya hubungan seks itu benar-benar menikmati keluar
masuknya penis besar itu ke dalam liang vagina sang dokter yang semakin
lama menjadi semakin licin akibat cairan kelamin yang muali melumasi
dindingnya. Dilihatnya
sang dokter meneteskan air mata, “Saya tidak bermaksud menyinggung ibu,
oh..”, Edo berusaha menenangkan perasaannya, ia memeluk tubuh sang
dokter dan memberinya beberapa belaian mesra. Kita sama-sama memiliki beban ingatan
yang menyakitkan dengan musuh yang sama”. Mereka saling menatap penuh misteri. “Uuuhh…, aahh…, ooohh, mm…,
aah…, saya juga mau keluar Bu, ooohh…, dokter Miranti sayaang,
ooohh…, mm…, enaakk sekali, ooohh…, ooohh, dokter sayang,
ooohh…, dokter cantik, ooohh…, enaakk…, dokter dokter sayang,
ooohh…, vagina dokter juga nikmat sekali, oooh”, teriak Edo juga.















