Tapi belum tersentuh kepala penisku. Bokepindo Aq tdk berani menatap wajahnya. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Ia tdk membalas tapi lebih ramah. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Si Penis melemah. Ia kerja di sana? Di mana? Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Jendela kubuka. Membuang napas. Ke bawah lagi: Turun. Kalau saja, tdk keburu wanita yg menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Penis. Saya bisa masuk angin” kata perempuan setenga baya di depanku pelan.Aq tersentak. Lalu memegang pahaku,“Yg mana..?”Yes..! Sebantar lagi Mbak Ita yg punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”Aq langsung beres-beres dan pulang. Hidungnya tdk mancung tetapi juga tdk pesek. Bodoh, bodoh, bodoh. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aq tengkurap.















