Isak Maudy makin keras terdengar. Bokepindo Rambut kemaluannya yang tak lagi selebat semula, tampak basah, melekat ke kulit yang kemerahan, bekas cabutan yang brutal tadi. Tapi kelegaannya hanya sejenak saja. Lipstik merah tipis membuat bibirnya yang indah itu makin menarik. Puluhan helai rambut kemaluan Maudy kini berada di genggamannya. Maudy agak lega ketika belati itu ditarik. Bibirnya betul-betul belepotan sperma kini, begitu pula kening, pipi dan di sudut matanya. Ia bisa merasakan panasnya hembusan napas lelaki itu. “He he… gue mau…itu,” lelaki itu menunjuk bagian bawah tubuh Maudy. “Cepettt!!!” lelaki itu membentak dengan suara menggelegar. Maudy menggigit bibirnya, tak pernah dibayangkannya akan melakukan hal tersebut di hadapan lelaki yang sama sekali asing baginya. Kini ia terduduk di lantai mobil, terisak dengan sekeliling bibirnya tampak cairan sperma. Maudy tetap meronta hingga penis lelaki itu kini menjauh dari vaginanya. Kedua lelaki itu kemudian duduk di jok lalu memaksa Maudy jongkok di hadapan mereka. “Aduhh…sakit…iya…iya…” kata Maudy. “Ah…eh, jangan…jangan dilihat…” kata Maudy mengiba. Tangan kasar itu seolah hendak merenggut bukit kecil itu dari tempatnya melekat. “Sebentar, masih ada yang harus lu kerjakan supaya nggak gue perkosa,” sahut lelaki di depannya. Bahkan, penis Gilang pun belum pernah dilihatnya, kecuali memegangnya di balik celananya saat mereka















