Masih genit dan sedikit manja. Bokepindo Macam-macam alasannya. “Mama tadi pesan”. “Kita minum dulu ke sini, ya..?”, ajakku untuk mampir di tempat minum susu segar yang biasa ditongkrongi anak-anak muda. Niatku makin menggebu setelah Sari tak menunjukkan kemarahan ketika beberapa kali aku menjamah paha mulusnya dan bahkan sekali aku pernah meremas buah dadanya. Sementara aku kembali ke tempatku. Kanan kembali ke Setia Budi. Roknya selalu model mini dan cara duduknya sembarangan. Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. Kadang bibirnya berperan sebagai “bibir” bawahnya, menjepit sambil naik-turun. Kuminta Sari melepas kulumannya, banyak orang lalu-lalang. Tanganku menyusup ke balik CD-nya. “Hee.., stop.., stop Mas..”, serunya. Situasi ramai. Kantorku di lantai 3, di lantai 1 gedung ini terdapat sebuah toko milik koperasi pegawai BUMN ini yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, mirip swalayan kecil. “Ke mana..”, aku balik bertanya. “Hampir Cihampelas”, jawabku. Aman. Aturan perusahaan memang mengharuskan aku pakai dasi jika kerja di kantor klien.Aku makin penasaran. Sampai di perempatan aku harus ambil keputusan mau ke mana? Ada beberapa bank, kantor pos dan kantin. Kira-kira 100 m sebelum hotel GE, kembali aku membujuk Sari untuk mampir.















