Mbak Iin.., udah ada pasien tuh, ujarnya dari ruang sebelah. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yg kali ini karena mendung tdk lagi ada keringat di lehernya. Bokepindo suara itu mengagetkanku. Pokoknya turun.Kiri Bang..!Aq lalu menuju salon. Ia tepat berada di tengahtengah. Aq menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yg tahu di mana titiktitik yg harus dituju. Terganggu wanita muda yg di ruang sebelah yg kadangkadang tanpa tujuan jelas bolakbalik ke ruang pijat.Dari jarak yg begitu dekat ini, aq jelas melihat wajahnya. Aq tersetrum. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aq hanya mendengus. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?Pelanpelan suaranya kan bisa Dek, sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aq membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Aq bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yg meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Lalu pijitan turun ke bawah. Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Aq makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.Halo..! ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.















