Akuterpejam menahan air mani yang sudah di ujung.Bergantian Wien kini telentang.Pijit saya Mas..! Si Junior melemah.Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Bokeb Angin menerobos dari jendela.Masih ada waktu bebas dua jam. Kring..!Mbak Wien, telepon. Ayo cepat ia hampirselesai membersihkan belakang paha. Aku masihtermangu. Bau tubuh wanita setengah bayayang yang meleleh oleh keringat. Wajahku mulai panas. Kuusapsisa cream. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Lama sekali iamemijati pangkal pahaku. Ya nggak apaapa, katanya menjawab telepon.Siapa Mbak..? Jangan di sini..! Apalagiyang dapat tertinggal? Akumembayangkan dapat menjepitnya di sini. Membuka celanaku danbajuku lalu gantung di kapstok. Akumeringis merasai sentuhan kulit jarinya. kataku memelas, yasebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan dudukdi tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Ia masih dingin tanpaekspresi. pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depanberdering. kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Akumakin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.Halo..! Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokandepan, kurang lebih 100 meter lagi.















