Kubalikkan
tubuhku menghadap tembok membelakangi Mas Ton yang kembali dari arah
pintu. Aku ingin marah kepadanya atas kelancangannya, tetapi aku
tidak dapat, karena dalam gejolak rangsangan yang membuaiku sebenarnya
aku sudah kehilangan rasioku. Bokepindo Nafasku memburu, aku makin terangsang,
bahkan Mas Ton tanpa sadar telah merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Dibimbingnya dengan lembut tangan kiriku ke arah
batang kejantanannya dan aku tidak kuasa lagi menolaknya. Aku memberikan alasan bahwa ada tugas kuliah yang lupa
kuselesaikan. Ditariknya tangannya
dari celanaku, dan dia segera turun dari tempat tidur dan segera
menguncipintu kamar. Dan
aku masih pura-pura tidur. Aku tetap pura-pura
masih tidur dalam posisi telentang, jantungku berdegup keras, aku tidak
tahu apa yang harus kuperbuat. Dibimbingnya dengan lembut tangan kiriku ke arah
batang kejantanannya dan aku tidak kuasa lagi menolaknya. Saat itu aku sudah tidak dapat lagi
menahan kuasa nafsu birahi dari dalam tubuhku yang masih perawan ini. Aku menahan nafas, aku menggelinjang dan kujepit jarinya
dengan kuat. Sejak menikah satu tahun yang lalu, dia dibawa suaminya ke
kota Jakarta, dan sejak itu aku memang belum pernah
mengunjunginya. Kudengar
nafasnya memburu disertai desis yang pendek dari mulutnya.















