Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. Bokeb Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.“Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Senyum bahagia.“Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.“Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku.“Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Tapi Abi kan manusia biasa. Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?














