Dgn gaya kebapakan (kok sama dgn ceritanya soal si hidung belang Kartolo itu?), aku berdiri dan mendatangi dia, duduk di sebelahnya dan memeluk pundaknya. Bokepindo Meskipun kecil, kotaku termasuk ramai karena dilewati jalan utama yg lebar dan selalu dilewati truk dan bus antar propinsi, siang dan malam.Eh, kembali ke Kakek Ngadimin, tampaknya si Kakek punya perhatian khusus kepadaku (atau malah karena aku memang kelihatan sekali tidak menyukai dan sinis terhadap gaya perdukunannya?). Kini dia menuruti dgn patuh, mengangkat pantatnya sehingga kemaluannya semakin lebar terbuka di depan wajahku. Bosen. Si Kartolo itu pasti sudah nggendam (menyihir) kamu. Suaraku penuh ketegasan namun juga bernada kuatir:
“Cah Sara, Cah Sara, kamu dalam bahaya besar. Tenang, jangan terburu nafsu, pikirku. Saya bermimpi Pak Kartolo berdiri di depan saya, wuda blejet (telanjang bulat). Dan dgn cepat ia membuka kaos T-shirtnya, meletakkan di kursi. Akhirnya kecupan dan jilatan lidahku berhenti di kelentitnya. Sekali lagi aku memercikkan air bunga dari gelas ke bagian yg ditunjuknya, dan mendekatkan mulutku ke belakang telinganya. Pokoknya, kamu harus mau nglakoni (melaksanakan) semua perintahku, ya Cah Sara. Pikirku. Aku sekarang dapat melihat wajahnya dgn jelas. Jelas dia kini juga terangsang berat. Mana lagi yg di cium si Kartolo?” sekarang dia menunjuk buah dadanya:
“di susuku















