hi..” sambil cekikikan.Dengan super hati-hati ia gerakkan juga pisau cukur mulai menghabisi bulu-bulu kemaluanku. Bokepindo saya ikuti ia ketika ia mambaringkan tubuhnya di tempat tidur. Karena tak tahan, saya langsung menciuminya.Hal ini menjadikan Endar semakin menggeliatkan tubuhnya, tandanya ia merasa nikmat. Setelah beberapa kali, saya mendorong lagi. Endar sendiri masih sekolah di SMU. Sambil meringis berbasa-basi sekenanya.“He… he… ada apa En..?” sapaku gelagapan.“Eh, Mas Bayu lagi ngapain..?” kata Endar yang nampaknya juga sedang menyembunyikan kegugupannya.Si Endar memang akrab dengan saya, ia sering minta bimbingan dalam hal pelajaran di sekolahnya. Nggak apa-apa deh, dihadapan cewek harus kelihatan lebih gagah gitu..”“Mas Bayu sengaja ya..?”“Suer.., ini cuma normal.”Endar masih memperhatikan kemaluanku yang sudah besar dan kencang dengan wajah yang sulit digambarkan. Setelah tepat di depan gerbang kendarkmatan, saya dorong sedikit.“Bless…”Kepala kemaluanku bisa masuk sedikit, Endar meringis, tetapi terus menekan bokongku. Kembali kuarahkan kemaluanku ke arah barang yang paling dilindungi wanita ini. Tanpa kusadari kain penutup kepala kemaluanku sudah tersingkap,















