Tubuhku menggeliat-geliat bagai ular kepanasan mengimbangi permainan lidah dan mulut Kang Hendi di buah dadaku yang terasa semakin menggelembung keras.“Oohh Neng.. Semuanya tertutup oleh tubuhnya yang jauh lebih besar dariku.Aku menyembunyikan kepalaku ketika ia merangkul tubuhku. Bokepindo Buru-buru pikiran itu kubuang. Air mataku jatuh bercucuran, meratapi nasibku yang tidak beruntung.Pelarianku itu menjadi kebiasaan setiap menjelang tidur. Kepada siapa aku harus melampiaskan semua ini? Memiliki kehormatan.Aku bukanlah wanita murahan yang dapat sesuka hati mencari kepuasan. Sepertinya aku ini wanita murahan, yang biasa mengobral tubuhnya hanya demi kepuasan lelaki hidung belang. kalau saja Akang dari dulu tahu. Ia sangat yakin aku tak akan berontak meski tanganku sudah terbebas dari cekalannya.Memang tak dapat dipungkiri keyakinan Kang Hendi ini. Mengacung tegang dengan gagahnya. Aku malah menaruhnya di atas kepala Kang Hendi yang bergerak bebas di atas dadaku. Kecewa, marah, sedih dan entah apalagi yang ada dalam perasaanku saat ini. Aku berusaha menghindar dari ciuman itu sambil menahan pakaianku agr tak terbuka. Kang Hendi sama sekali tak menyangka hal ini.















