Setelah sampai di teras rumahnya kulihat kakiku, ternya yg kunjak tadi adalah sesuatu yg kurang enak untuk disebutkan, sampai-sampai sepatuku sebelah kiri hampir setengahnya kena.“Aduh Pak nendi, gimana dong itu kakinya.”“Gag apa-apa, nanti aqu cuci kalo udah nyampe rumah.”“Dicuci disini aja pak, nanti gag enak sepanjang jalan kecium baunya.”“Ya udah, kalo begitu aqu ikut ke toilet.”Setelah membersihkan kaki aqu diperliahkan duduk di ruang tamunya, dan ternyata disana sudah menunggu segelas kopi hanngat. Dia membuka pintu depan rumahnya dgn susah, rupanya ada masalah dgn kunci pintu tersebut.Aqu tak berusaha membantunya, karena dari belakang baru kuperhatikan kali ini kalau bagian tengah belakang milik Silvi menarik sekali, lingkarannya tak terlalu besar, tapi aqu yakin laki-laki akan suka bila melihatnya dalam keadaan setengah berjongkok seperti itu.Akhirnya pintu terbuka juga dan dia mempersilakan aqu masuk, dan kamipun masuk. Bokepindo Sambil menunggu kakiku kering kami berbincang lagi.“Oh ya vi, mengenai yg kamu ceritakan tadi di jalan, gimana cara kamu mengatasinya?”“aqu sendiri bingung Pak harus bagaimana.”
Mendengar jawaban seperti itu dalam otakku timbul pikiran kotor lelaki.“Gimana kalau besok-besok aqu kasih apa yg kamu pengen?”“Yg aqu mau yg mana pak.”“Lho, itu yg sepanjang jalan kamu bilang belum pernah ngalamin.”“Ah bapak bisa aja.”“Bener kok, aqu bersedia ngasih itu ke kamu.”Termenung dia















