Aku melihat bayangan kami berdua di cermin itu. Malah aku senang jadinya. Bokepindo Keluarga kami terdiri dari Papaku, Hermawan berusia empat puluh tahun, Mamaku, Lenny berusia tiga puluh enam tahun dan aku, sekarang usiaku delapan belas tahun. Mungkin juga supir tapi ganteng, entahlah. Dapat kurasakan kedua payudara Mama menekan dadaku dari balik daster dan BHnya. Jadi, aku dapat mencium wangi sabun dan juga wangi kemaluan Mamaku tercampur di udara. Kami sekeluarga memiliki usaha yang besar. Alasan aku pernah membayangkan tubuh Mama adalah kami punya kolam renang dan biasa berenang. Payudara Mama memang tidak besar, namun gundukkan teteknya cukup jelas terlihat dan bentuknya tegak bukan kendor, dengan puting menyembul di kain penutup dadanya. Semakin lama nafas Mama semakin cepat dan hembusannya makin terasa di wajahku. Anehnya, aku hanya bersumpah akan melakukan satu syarat, sementara Mama harus bersumpah melakukan dua syarat. Kami bertiga tidak banyak bercakap-cakap seperti biasanya. “Justru disitulah kuncinya. Apalagi kini kami dalam posisi duduk dan berpelukan. Mama melenguh kecil,
“Uuuuuuuh………………. Begitu erotis, pikirku. Desahan Mama makin jelas, lalu tiba-tiba Mama menghempaskan tubuhnya ke bawah sehingga kini kontolku ambles ke dalam liang persenggamaan Mamaku.















