“…Ja-jadi semua kebaikan yang Om tawarin tadi cuma karena ini?”. Bokepindo Om Rudi dan laki-laki itu berjabat tangan. “Boleh aja, kalo kamu gak masalah aku turun ke bawah gak pake celana terus gak pake daleman”. Hanya suara-suara pengunjung cafe yang terdengar riuh disekitar mereka. “Terus gimana dong Om?”. “Gak kok baru aja, duduk Ta”. Tidak ada ekspresi bosan ataupun kesal yang muncul di wajah Om Ridwan, sebagaimana yang ia harapkan. “Bye”. Kembali mereka berciuman. Cinta tidak menolak ketika Rido merebahkan tubuhnya di ranjang. Kompensasi? Saat itu ia terlihat sedang menggandeng seorang gadis. Begitu pula dengan laki-laki yang menjadi kekasihnya. Kini ia berjumpa Om Ridwan sedang menggandeng seorang gadis muda. Untuk laki-laki berusia diatas kepala lima Om Ridwan mungkin tidaklah tampan, namun berkarisma. Tentunya ia tidak bisa menyalahkan ayah sahabatnya itu. “Kamu ada waktu gak hari ini? Waktu itu aku melihat seorang gadis yang kini sedang duduk di lobi salah satu hotel berbintang yang berada di pusat kota. “Udah ditunggu?”. “Iya kalo lancar Om”. “Wah.. Cinta hanya bisa menurut. Tak jarang mereka membantu Cinta untuk hal-hal penting, dengan imbalan beberapa jam kehangatan diatas ranjang.















