Lalu pijitan turun ke bawah. Bokepindo katanya lagi seperti iri pada Iin.Aq mengambil pakaianku. Aq kira aq sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Oh ya. Oh ya. Sekarang sudah lebih lancar. Benarkan kesempatan itu lewat. Hidungnya tdk mancung tetapi juga tdk pesek. Lalu dikocokkocok sebentar. Aq masih termangu. Tdk terlalu ayu. Ada sekatsekat, tdk tertutup sepenuhnya. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Aq menurut saja. Itu artinya ia tdk mau diganggu. Atau mau gunting? Aq dipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tdk meninggalkan aq. Apalagi yg dapat tertinggal? Aq tertipu. Di mana? Ia masih dingin tanpa ekspresi. Sebantar lagi Mbak Ita yg punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.Aq langsung beresberes dan pulang. Lha wong Mbak Iin menutupi wajahnya begitu. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Sial. Ia malah melengos. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Tdk terlalu ayu. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Apa katanya nanti? Massage, boleh. Aq memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Tetapi tdk lama, suara pletakpletok terdengar semakin nyaring. Aq hanya ditinggali handuk kecil hangat.















