Kalau kini aq berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yg membasahi leher, pasti karena aq terlalu terbuai lamunan. Aq memegang teteknya. Bokepindo Kaki kusandarkan di tembok yg membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Aq masih di atas angkot. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.“Mbak Iin.., aq mau makan dulu. Kami seperti tdk ingin membuang waktu, melepas pakaian masing-masing lalu memulai pergumulan.Iin menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Ia tdk melanjutkan kalimatnya.Aq tersenyum. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Hanya suara kebetan majalah yg kubuka cepat yg terdengar selebihnya musik lembut yg mengalun dari speaker yg ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok.















