“ya kalau udah ngetop bisnis ini kan bisa ditinggalkan atau diserahkan ke anak buah”
Selama pembicaraan kami sama sama mengepulkan asap rokok, ruangan jadi terasa pengap, apalagi tak ada ventilasi untuk ruangan ber-AC seperti ini. Bokepindo Sebenarnya Pak Toni masih menginginkanku duduk dipangkuannya tapi kutolak sambil memberi isyarat tangan ke kamar mandi, Lita bisa keluar anytime.Ternyata Lita tidak langsung keluar, sehingga masih ada waktu bagi Pak Toni untuk kembali mem-briefing aku skenarionya. Kulirik Pak Toni sudah merem melek merasakan kulumanku, seperti halnya aku, dia memegang kepalaku dan menekan semakin masuk penis itu di mulut. “nggak usah celingukan gitu, ntar dikira anak kehilangan bapaknya” katanya dari telepon, berarti dia memang di daerah lobby.Kusapukan mataku ke pelosok lobby, namun tak kulihat juga tampangnya, hingga kurasakan colekan di pundakku dari belakang.“sialan kamu” kataku sambil mematikan hp, kulihat panther-ku sudah siap di depan. Sopir sudah menunggu ketika kami keluar dari airport dan langsung menuju ke Hotel Mandarin, hotel yang dipilihkan Pak Toni, belakangan baru kutahu kalau itu dekat dengan kantornya dan dia bisa segera menemuiku sepulang kantor atau sebelum ke kantor.Malam itu aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa “gangguan” dari Pak Toni, inilah pertama kali aku merasakan kesepian di kamar hotel, belum pernah aku sendirian begini















