Biarkan saja. Bokepindo Boleh. Bagaimana?”
“Okay.. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Aku yang tidak yakin. Wah, kebetulan. Aku segera berdiri dan nekat membuka pintu kamarnya. Posisi dudukku tepat di depan band tersebut. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang. Kukira Felicia akan berteriak terkejut atau marah. Perih tau!” teriak Felicia. Suaranya memang sangat jazzy. Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku memberinya stimuli ringan. “Payudaramu seksi sekali, Felicia.. “Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Yang jelas aku terus berusaha mendapatkannya. “Ough.. Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Aku kembali berbicara dengan clientku. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Termasuk jazz yang memang ‘brain music’. Aku menyalakan shower dan kemudian di bawah air yang mengucur dari shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Lidahku menekan lidahnya. Tanganku segera menahan tangannya. Atau Felicia memang memancingku? Aku tidak tahan panas. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik. Kamu bisa main piano yah?” Felicia tampak terkejut. Dia menjerit kuat sekali kemudian membalikkan badannya dan memelukku. “Salah tuh mainnya.” komentar Felicia. Tangan kiriku masih memegang tangannya. Kulihat Felicia dengan percaya diri membalas tatapanku. Tanganku segera menahan tangannya. Benar! “Yes.. Belum mahir kok.”















