Mendadak jari tanganku dingin semua.Wajahku merah padam. Lalu ngomong apa? Bokep indo Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Ah sial. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Betul-betul keras. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing.Dari atas: Turun. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Apa katanya nanti? Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Hawin.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Membuang napas. Kring..! Alamak.., jauhnya. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Aku tidak tahan. Aku meringis menahan sensasasi yang waow..! Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Aku masih mematung. Bayar arisan. Lalu dikocok-kocok sebentar. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh.Ia menekan-nekan agak kuat. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum.















