Besar sekali buat saya. Bokepindo Apa sudah waktunya?Saya nggak bisa kendalikan badan saya. Biasanya seharian menari saya tidak pernah dapat uang sebanyak itu. Mungkin karena itu juga Juragan selalu minta saya pakai pakaian dan riasan penari lengkap tiap kali beliau nanggap saya…Yah, saya juga ikut senang kalau bisa bikin Juragan senang. Saya lepas ikatan kemben di punggung saya, lalu pelan-pelan saya urai lilitan kain kemben merah yang membebat badan saya. Ditambah lagi, sekarang Juragan memasuk-masukkan jarinya juga ke… belahan memek saya!“Aduh, aduh, ahh… Juragan! “Tapi… tapi nggak bakal muat, Juragan!”“Nggak apa-apa… Kukasih kamu tiga puluh ribu lagi kalau kamu mau kumasuki.”Kali ini Juragan tidak nunggu jawaban saya. Semua orang nengok dan nggak lihat apa-apa lagi.Saya sendiri selalu merasa jelek lho kalau tampil bersama Simbok. “Jiah!”Saya kaget waktu Juragan mencubit-cubit pentil saya.“Gimana Denok, kamu suka dicium seperti tadi? Minta ampun sakitnya. “…saya boleh pinjam uang, Juragan? Saya akhirnya sendirian di Ibukota, sepeninggal Simbok. Beliau pemilik toko beras yang besar itu.















