Sekalian.”Tia melihat sekilas Bram nyengir jahat lalu merasakan kedua tangan Bram mencengkeram kedua sisi kepalanya. Bokeb Gih.”Bram lalu mundur dan melepas tangan Tia. Remas terus. Siapa suruh muntahin? Pencet terus.”“Maafin kalo kurang gede Mas… uh, ungh… Mas aku jangan dibiarin sendiri terus dong… isep toketku Mas…”“Gak. Pakaian yang dipinjamkan Citra pun tidak mencerminkan kepribadiannya yang biasa, tapi Tia diam saja. Citra, kakak ipar Tia, menyandarkan punggung ke kursi salon yang didudukinya sambil membuka satu per satu foto-foto itu. Buat Tia sendiri, perlu kekuatan tekad sangat besar untuk bisa berpenampilan dan bersikap seperti saat itu. Kalau kamu mau coba tanya orang lain, silakan.”“…” Tia diam saja.“Kalau kamu mau, aku siap bantu. Dia sadar, dia sendiri salah. Apa susahnya sih ngasih tau aku apa yang kamu suka?”“Habisnya…” Bram meringis.















