Tangan kiriku yang bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Eksanti, kini mulai aku aktifkan. “Kenapa memangnya, apa bedanya punya Mas yang dulu dengan yang sekarang?”, tanyaku penasaran. Bokepindo Eksanti diam saja. Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yang mengeras terkena siraman air. Aku langsung menarik tubuhnya untuk berhadapan denganku. “Aku tadinya nggak mau kita masuk ke kamar ini, karena aku takut kita nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya lagi, Mas”, tambahnya memberikan pengarahan kepadaku. Berulang kali tanganku mencoba mengusap wajah cantik sensualnya dari guyuran air. Mas, kamar Santi lagi berantakan nih!”Eksanti lalu menutup pintu di depanku. Entah mengapa, ketika menatap mata Eksanti yang sayu itu, pikiranku jadi teringat masa-masa indah yang pernah kami alami dulu. occhh.. Aku membelai lagi payudaranya. “Anak ini, kok aneh banget, jual mahal lagi”, pikirku. Pada saat tubuhnya menghentak-hentak, ternyata aku merasa tidak sanggup lagi untuk bertahan lebih lama. Pinggul Eksanti perlahan bergerak ke kiri.., ke kanan.. Tangan kiriku yang bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Eksanti, kini mulai aku aktifkan. Eksanti menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku. Kulitnya yang putih membuat mataku tak jemu memandang. Dia tersenyum memandangku. Matanya yang sayu ditambah dengan rangsangan yang tengah dialaminya, menambah redup bola matanya. “Bagaimanapun juga khusus untuk yang satu ini, Santi tidak dapat















