Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Bokepindo Bodoh amat. Dari atas: Turun. Tangannya halus. Hap. Aroma asli seorang wanita. Ia menyenggol kepala juniorku. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Kadang-kadang ketimun. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. “Si Nina, yang tadi. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. “Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka? Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ah masa bodo. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu.















