Tujuanku datang ke Jakarta sebenarnya untuk merubah nasib. Bokepindo Karena ditanggung oleh Nyonya Wulandari. Selembar ijazah SMP yang kubawa dari desa, ternyata tidak ada artinya sama sekali di kota ini. “Terus, tujuannya mau kemana?” tanyanya lagi. Dan kalau sudah begitu, menjelang pagi aku baru keluar dari sana dengan tubuh letih. Aku ingin merasakan dan menikmati dulu keindahan tubuhnya dan kehalusan kulitnya yang putih bagai kapas ini. mengurus rumah sebesar ini, tidak mungkin bisa dikerjakan oleh satu orang. Aku jadi heran sendiri. “Mobilnya mogok, Nyonya..?”, tegurku dengan sikap ramah. Dan wajahku juga terasa tebal oleh debu. Padahal sudah hampir sebulan suaminya pergi Dan kini pulang juga hanya semalam saja. Beberapa orang pembantu sudah menyarankan agar aku pergi saja dan rumah ini. Ragu-ragu aku memegang pinggangnyaNyonya Wulandari membawaku ke pembaringannya yang besar dan empuk Dia melepaskan baju yang kukenakan, sebelum menanggalkan penutup tubuhnya sendiri. Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata kehidupan di kota besar, justru lebih keras dan pada di desa.















