Aku tak menjawab, dan langsung berlari, meninggalkannya. Bokepindo Sementara Nenek, rupanya belum ada keinginan melanjutkan aksinya. Bentuknya menurutku mirip dengan milik kambing betina yang biasa kulihat di padang gembala bersama kakak sepupuku yang lain. Seperti telah ku paparkan, ranjang kayu jati yang kutempati, memang telah usang. Uhh,” ia mendesah. Aku merasa geli campur nikmat. Rupanya Nenek tadi kebelet pipis. Tak nampak satu bintangpun di angkasa. “Masih terasa sakit ya Mbak?” tanyaku, yang tanpa meminta persetujuan darinya mencoba meraba benjolan di dada Mbak Sekar. Lagi-lagi tangan keriput itu menelusup di balik kain Kemben [sejenis assesoris pakaian adat jawa-pen], yang ternyata telah di longgarkan ikatannya, sehingga dengan mudahnya, tangan Nenek keluar masuk di sekitar pangkal pahanya. Tentu saja maksud penjemputanku adalah untuk diajak serta oleh Nenek pergi menemaninya ke Semarang. Aku tak lagi perduli, apapun yang terjadi, malam ini aku harus tahu. “Ah.. Pertama-tama, tentu saja, aku berusaha menyingkapkan kain yang menutupi separuh betisnya hingga ke perutnya. Mau kemana?” tanyanya saat tahu aku bergegas ingin meninggalkan biliknya. Cepat-cepat, kubuka celanaku, dan segera ku sembunyikan di bawah bantalku, Penisku yang masih tegang belum mau mengendor, meski telah ada jeda pertunjukan.















