Senyap. Bokepindo Mendesah.Perlahan, batang kemaluanku memasuki liang kemaluan Jeanne yang sudah licin basah. Jeanne mendesis-desis. Jeanne memutar-mutar ujung lidahnya ke arah lubang dan sekitarnya pada ujung batang kelelakianku. Jeanne mendongakkan kepalanya dan mendesis-desis kenikmatan sambil ia menggoyang-goyangkan pantatnya.Lidahku kembali menjilati dan menyusuri sekitar gerbang kewanitaan Jeanne. Kalau kamu bisa sebarkan apa yang kamu sebut energi seksual sebagai penggantinya, maka kamu akan menambah qi kamu dan menumbuhkan ke dalam shen dan jin kamu,” kataku menerangkan. Kuarahkan gerbang kewanitaannya ke arah mulutku. Jeanne berulang kali mendesah, melenguh, mendesis, meracaukan kata-kata yang tak jelas kedengaran di telingaku. Kedua tanganku tidak tinggal diam saat lidahku memainkan aktivitasnya. Kuelus dan kuraba punggung putih mulus Jeanne sementara dia mengelus-elus rambutku. Dia hanya tersenyum dan meletakkan sebuah jarinya di bibirku, tanda bagiku untuk diam. Disusurinya batang kelelakianku dengan lidahnya hingga ke ujung topi bajanya (ya, aku memang disunat, demi kesehatan). Jeanne memutar-mutar ujung lidahnya ke arah lubang dan sekitarnya pada ujung batang kelelakianku. Jeanne meneruskan jilatannya dengan cara menggeser, memutar dan menggelitiki pangkal kantung “peluru”-ku dengan lidahnya, terus hingga ke arah lubang pembuanganku. Rasa aneh antara sakit, geli, dan enak menyergap otakku.















