Ia memegang batang kemaluannya yang nampak aneh terbungkus karet berwarna pink itu.“Eit… jangan dipegang dong. Bokepindo Ketahuan juga!” Windu mengumpat dalam hati. Tapi kena bayar ekstra lho…” tiba-tiba tangan mungil itu sudah menelusup di antara selangkangan Windu dan menyambar batang kemaluan Windu yang sudah sangat menegang. Windu menahan nafas menanti detik-detik di saat akhirnya benda itu akan tiba di tujuan. Ibu yang rajin menasehati untuk rajin belajar, rajin sholat dan jauhi berzinah.“Ah, persetan..! Dengan sekali sentak, si mungil akhirnya berhasil melepasnya dan melemparkan celana itu ke kursi.“Nah, kan begini lebih enak… Iiihh pantatnya bohay juga!” si mungil menepuk pantat Windu. Windu menurut. Kalau mau servis ekstra langsung ke mereka. Windu mengangkat pinggulnya agar si mungil lebih leluasa mengurut benda keramat itu. “Sini Titi pasangin yah mas” dimasukkannya kondom yang masih tergulung itu di mulutnya dan langsung berjongkok di pinggir tempat tidur. Perasaan Windu campur aduk. Wajah Windu pucat pasi.“Emmm, aku mau ke kamar mandi sebentar…!” Windu menggeser tubuh telanjangnya sehingga mau tak mau si mungil bergerak ke samping membiarkan Windu bangkit dari tempat tidur. Tak dihiraukannya serbuan pertanyaan si mungil. Windu terus mengocok dan meremas sekuat tenaga.















