Jari tangan mulai dingin. Bokeb Comeon lets go! Lho, salon kan tempat umum. Ayo..!Mbak.., pahaku masih sakit nih..! Ah masa bodo. Tapi tidak apaapatoh tipuan ini membimbingku ke alam lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Kami seperti tidak ingin membuang waktu,melepas pakaian masingmasing lalu memulaipergumulan.Wien menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah bayayang tahu di mana titiktitik yang harus dituju. Ada sekatsekat,tidak tertutup sepenuhnya. Ke bawah lagi: Turun. Alamak.., jauhnya. Aku tahu di mana ruangannya. Ah sialan. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh,42 hore aku turun. Dari iramanya bukan sedangberjalan. Ataukesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupiwajah? Sial. Ia kerja di sana? Tidak perludiantar. katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Ke bawahlagi: Tidak. Lagi pula percuma,tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing.















