“Ah, nggak ada apa-apa!”, jawabku. Namanya Ani. Bokeb Dalam hati aku bertekad untuk menikahi gadis itu, karena aku sangat mencintainya… Duh, senang sekali aku bisa kenalan dengan gadis seperti dia. Kami pulang jam sembilan malam atas keinginan Ani. Kami saling berpegangan, meraba dan membelai. Kupandangi dadanya di balik BH putihnya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang.“Kang, bener Akang cinta ama saya?”, tanyanya lagi. Pada liburan semester selanjutnya, kami berjanji bertemu di rumahnya. Kupandangi dadanya di balik BH putihnya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang.“Kang, bener Akang cinta ama saya?”, tanyanya lagi. Bulan demi bulan telah berlalu, kamipun semakin akrab dan sering berhubungan lewat telepon.Singkat kata, kamipun sepakat untuk menjadi sepasang kekasih. Untuk mengatasi kejenuhan, aku jalan-jalan di kota tersebut. Namanya Ani. Dalam hati aku bertekad untuk menikahi gadis itu, karena aku sangat mencintainya… Keluarganya sedang pergi menegok teman ayah pacarku yang sedang sakit keras.Malam itu dingin sekali, Ani permisi untuk ganti pakaian.















