“Nggak, mas! Bokepindo Sempat terlintas pikiran nakal yang membangunkan hasratku. Pandangan matanya sungguh cantik. Ruang yang cukup hangat. Mi hangat, hujan deras, dan gadis cantik…benar-benar liburan sempurna, pikirku. Dian menjerit dan memelukku. Di umurnya yang belasan, tubuhnya terbilang ranum. Ia tidak lagi menangis, Dian kini malah terpejam-pejam dan menggigit bibirnya. Akhirnya aku pun memeluknya sambil mengelus-elus punggungnya. Rumahku, rumah pak Jono di belakang rumahku dan rumah pak Rahman di samping rumahku.Hujan turun semakin deras saat aku buka gerbang rumahku dan melihat Dian, anak gadis tertua pak Rahman duduk sendirian di depan rumahnya. Ini tentu saja membuatku semakin kelimpungan menyembunyikan batangku yang semakin bersemangat. Perlahan nafsuku makin memuncak.dan usapanku turun ke pantatnya dan berganti menjadi remasan yang engarah ke selangkangannya. Oiya, aku laper, sekalian aku bikinin mi instan ya?” Tanyaku “Aku bantuin deh, mas” Katanya. Hingga akhirnya DUARRR, terlihat kilat dan guntur yang sangat keras disusul padamnya lampu. “Ya udah, kamu tidur aja di kamar tengah, kamar tamu. Ternyata orangtua Dian menelpon orangtuaku dan menitipkan Dian pada mereka. Istimewa buatku, karena ruang dapur yang sempit membuat tubuh kami beberapa kali saling “bersentuhan”. “Lepasin, mas” Pekiknya. Aku takut” Rengeknya. Sebegitu asyiknya sampai dia tak canggung mencubit dan bersandar padaku sembari terpingkal2 menanggapi lelucon2ku.















