Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, selangkangan. Nampak ada perubahan besar pada Fera. Bokepindo Tidak pasang wajah perangnya. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. ” kata wanita setengah baya itu. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Lama sekali dia memijati pangkal selangkanganku. Wajahku mulai panas. Ketika angin yang tertiup dari sela jendela angkot sedang kunikmati, terciumlah aroma khas seorang wanita, bau dari wanita setengah baya memang agak lain, tetapi aroma ini mampu membuat seorang prdia menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah pria rasakan. Duduk di tepi dipan. Keberuntungankah? Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..! Bodoh, bodoh, bodoh. Mbak Fera merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. “ Mbak Fera, telepon. Tetapi, bayangan itu terganggu. Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Lalu dekocok-kocok sebentar. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, dia sudah melumat Kejantananku. Badannya berbalik lalu melangkah. ”
Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.















