Junior berdenyut-denyut. Bokep indo Bicara apa? Creambath? Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Suara itu lagi. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Wien..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Bayar arisan. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Hitam. Tunggu apa lagi. Begini saja daripada repot-repot. Sial. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Kring..! Si Junior sudah mengeras. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Apa katanya nanti?















