Dugaanku tak salah, Nenek tak melanjutkan lagi intrograsinya. Bokepindo Kadang aku suka tersinggung dan menjadi sangat marah jika ada pemuda yang coba-coba menganggu Mbak Sekar. Kali ini bukan saja tangan kanannya yang membekap mulutku, tapi tangan satunya tak terasa mulai mengelus punggung dan bahuku. Esok paginya, peristiwa semalam dengan kakak sepupuku dan nenek, menjadi tonggak bersejarah, yang mendasari kegemaran dan kecenderunganku bermain cinta dengan wanita lebih tua.,,,,,,,,,,,,,,,,,, “Sini kainnya,” ujarnya mengagetkanku, yang dengan tanpa persetujuanku, merebut gumpalan kain yang masih dalam genggamanku. Di tengah belahan itu ada segumpal daging kecil keriput, yang tampak di kelilingi oleh daging seperti kerang yang di kupas.Saat itu aku tak tahu apa namanya, tapi yang pasti, daging kecil ini sempat kutarik-tarik dan kupelintir kekanan dan kekiri. Benar dugaanku, Mbak Sekar, segera beringsut menggapai tubuhku yang memang kurasa agak mulai merinding terserang hawa dingin. Biasanya, aku juga sering ereksi bila bangun di pagi hari, tapi akan hilang dengan sendirinya bila telah buang air kecil, atau terguyur oleh air dingin. “Lho.. Hanya saja yang mengundang decak kagumku adalah, di sini kutemui bulu-bulu seperti rambut yang sebagian besar berwarna putih seperti uban, tetapi cuma satu sisi yang tersisa. Meski sangat terbuka kesempatan itu, tapi aku tidak serta merta berani















