Saya bisa masuk angin.” kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.Aku tersentak. Ah apa saja. Bokep indo Lalu pijitan turun ke bawah. Shit! “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Langkahku semangat lagi. Lalu ngomong apa? Angin menerobos dari jendela. Ah apa saja. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Sudahlah. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Pasti terburu-buru. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”
Semua penumpang menoleh ke arahku. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Ah. Sial. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Bayar arisan. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Dingin. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Di mana? Lalu pindah ke pangkal paha.













