Dimana tangannya sudah menyusup ke dalam celana dalam yang masih aku kenakan.“Mmmppppttt…” desah yang terhalang pangutan panas antara aku dan Denny.Jemari Denny ternyata sudah bermain di atas vaginaku tanpa terhalang apapun, kulit jarinya menyentuh kulitku dan menggesek-gesek vaginaku serta memainkan klitorisku. Sesaat aku ingin keluar dari keadaan ini tapi sesaat aku seperti tak mampu melepaskan semua ini.“Apa yang terjadi denganku ?”
“Apa aku menikmati perlakuan Denny ?”
“Ohh tidak, ini tidak boleh aku sudah bersuami, tapi..”FlashbackSudah 6 bulan ini Mas Imran tak ada di sampingku, awalnya bulan pertama bisa aku sesuaikan dengan diriku tapi setelah itu nampaknya aku merindukannya, merindukan kasihnya dan merindukan sentuhannya.Sebagai pelepas lara dan rindu sering aku menelponnya sampai berjam-jam selepas pulang kantor, namun 3 bulan belakang ini itu jarang kulakukan karena Mas Imran harus fokus pada project dan juga kuliahnya, aku jadi semakin jarang berkomunikasi dan hanya berkirim pesan lewat aplikasi WA.Sebenarnya selain komunikasi kangen-kangenan dengar suaranya atau dengar suara anak kami atau melihat wajah kami ada satu hal yang membuatku sangat merindukannya. Bokepindo ia.. Dengan mata dan kepalaku sendiri aku melihat Ifa tengah berdiri menyandarkan tubuhnya pada lemari besi di belakangnya, wajahnya seperti meringis melukiskan pesan berarti dengan mulut yang terbuka seperti menyebut huruf “O” dengan mata merem















