“Shall we dance?” katanya, membuat tawaku berhenti. Bokep Rusia Kuharap tidak,” desisnya kemudian. Ia menatapku. Kulihat ia memandangku, masih dengan senyuman di bibirnya. Secara otomatis, jemariku mulai meraba dan menjelajahi bagian terintim dari tubuhnya. Ia menoleh, alisnya berkerut saat memandangku. “Kurasa juga demikian. Dari balik kemeja putih tipis yang ia kenakan, aku bisa melihat bayangan bra-nya. Ia masih menatapku tanpa berkata apapun. Alisnya berkerut, bibirnya setengah terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu. Tapi…”
“Tidak, kamu masih perjaka,” ia berbisik lagi. Katanya, “Mungkin. Kutekan saklar lampu. Ia mengikutiku.“Maaf. “Jangan. “Kamu bisa menikmatinya, selama kau mau,” kudengar ia berkata. Ia lalu meraih leherku, melingkarkan kedua betisnya di pinggangku. Ia menghentakkan kepalanya ke belakang. Cepat-cepat kualihkan pandanganku. Kelelahan sudah merasuk ke dalam tulang sumsumku. “Tunggu,” kataku, “aku tidak…”
“Sebaiknya cepat-cepat sebelum aku berubah pikiran.” Ia melepaskan genggamannya di tanganku. Sampai akhirnya aku merusak suasana dengan pertanyaanku.“Stop!” serunya, membuyarkan lamunanku.















