Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium. Wajahku mulai panas. Bokep indo Bodoh, bodoh, bodoh. Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Wajahku merah padam. Ke bawah: Tidak. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Jari tangan mulai dingin. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Aku harus memulai. “Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. “Halo..?” katanya sedikit terengah. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya. “Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk.















