Sial. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Bokepindo Creambath? Apa katanya nanti? Hap.“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.“Ya.”Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Aku masih mematung. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Aku dipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.“Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Lalu mengangkang.“Aku sudah tak tahan, ayo dong..!” ujarnya merajuk.Saat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguh lagi.“Ah.. Mendadak jari tanganku dingin semua. Membuatku tidak berani. Dari perut turun ke paha. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. “Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Ke bawah lagi: Tidak. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya.









